24Views 0Comments
Mojokerto — Ketua Pengprov Senkom Mitra Polri Jawa Timur, Maun Toredjo, didampingi Sekretaris Wahjoe Soetiono, menghadiri sosialisasi Peraturan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Nomor 2 Tahun 2025 tentang Pelatihan Penanggulangan Bencana. Kegiatan tersebut berlangsung di Hotel Ayola Sunrise, Mojokerto, pada Rabu (1/10), sebagai bagian dari rangkaian peringatan Bulan Pengurangan Risiko Bencana (PRB) 2025.
Dalam kesempatan itu, Maun menegaskan keterlibatan Senkom Mitra Polri merupakan bentuk komitmen organisasi untuk terus meningkatkan kapasitas dan kesiapsiagaan menghadapi berbagai potensi bencana.
“Sosialisasi ini penting bagi kami, karena memberikan pemahaman lebih komprehensif mengenai regulasi terbaru di bidang pelatihan kebencanaan. Dengan demikian, Senkom Jatim dapat berperan lebih aktif dalam mendukung pemerintah, khususnya BNPB dan BPBD, dalam upaya pengurangan risiko bencana,” ujar Maun.
Ia menambahkan, Peraturan BNPB Nomor 2 Tahun 2025 menjadi pedoman penting dalam pelaksanaan pelatihan kebencanaan, mulai dari standar kompetensi, mekanisme penyelenggaraan, hingga penguatan jejaring lintas sektor.
“Harapannya, semua elemen masyarakat, termasuk organisasi mitra Polri seperti Senkom, dapat terlibat lebih sistematis dalam penanggulangan bencana,” imbuhnya.

Sementara itu, Kepala Pusat Pendidikan dan Pelatihan Penanggulangan Bencana, Kheriawan, yang hadir sebagai narasumber, menekankan pentingnya peningkatan kapasitas sumber daya manusia dalam menghadapi potensi bencana. Ia mencontohkan peristiwa gempa bumi berkekuatan 6,5 magnitudo yang mengguncang perairan Sumenep pada Selasa malam (30/9).
“Kita tidak bisa memilih bencana, tetapi kita bisa menyiapkan diri agar tidak menjadi korban. Kuncinya adalah latihan dan peningkatan kapasitas. Saat bencana terjadi, yang utama adalah tidak panik, mengetahui prosedur keselamatan, dan mampu melindungi diri,” jelasnya.
Kheriawan menambahkan, budaya kesiapsiagaan harus ditanamkan sejak dini melalui pendidikan dan pelatihan, baik bagi anak-anak maupun masyarakat umum. Ia mencontohkan Jepang, yang berhasil menekan jumlah korban gempa berkat latihan dan edukasi kebencanaan yang dilakukan secara berkesinambungan.
