8Views 0Comments
BANYUWANGI – Senkom Mitra Polri Kabupaten Banyuwangi turut berperan dalam memperkuat kesiapsiagaan masyarakat menghadapi potensi erupsi Gunung Raung melalui simulasi evakuasi bencana di Desa Sumberarum, Kecamatan Songgon, Banyuwangi, Kamis (29/10/2026).
Dalam simulasi tersebut, ratusan warga dilibatkan untuk mempraktikkan proses penyelamatan diri, penanganan korban, hingga evakuasi menuju lokasi pengungsian yang telah ditentukan. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya menguji kesiapan masyarakat sekaligus koordinasi lintas instansi dalam menghadapi kemungkinan keadaan darurat.
Ketua Senkom Mitra Polri Kabupaten Banyuwangi, Alfan Abdillah, mengatakan keterlibatan Senkom dalam kegiatan kebencanaan merupakan bagian dari tiga klaster utama pengabdian organisasi.
“Senkom Mitra Polri memiliki tiga klaster pengabdian. Pertama, bidang kamtibmas melalui kerja sama dengan Polri dengan slogan ‘Menembus Jarak Tanpa Batas’. Kedua, bela negara melalui kerja sama dengan TNI. Ketiga, bidang kebencanaan melalui kerja sama dengan BNPB dan Basarnas, dengan slogan ‘Siaga Saat Aman, Ada Saat Dibutuhkan’,” jelas Alfan.
Menurutnya, keterlibatan dalam kegiatan mitigasi bencana merupakan bentuk kontribusi Senkom dalam mendukung upaya pemerintah dan instansi terkait untuk meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat.
Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Banyuwangi, Djadmiko Tri Wurjanto, menjelaskan simulasi tersebut tidak hanya bertujuan melatih warga menyelamatkan diri, tetapi juga menguji efektivitas koordinasi antarpihak serta mengidentifikasi kekurangan dalam sistem penanganan darurat.
“Langkah ini diambil sebagai bentuk mitigasi bencana agar masyarakat setempat memiliki refleks yang baik serta tahu persis apa yang harus dilakukan apabila suatu saat erupsi Gunung Raung benar-benar terjadi,” kata Djadmiko.
Skenario latihan dimulai ketika warga diarahkan menuju halaman Kantor Desa Sumberarum. Di lokasi tersebut, petugas melakukan pendataan dan klasifikasi berdasarkan kondisi kesehatan serta kebutuhan evakuasi masing-masing warga.
Klasifikasi meliputi warga yang mengalami luka akibat material erupsi, warga yang sakit karena kelelahan, serta kelompok rentan yang tidak memiliki kendaraan pribadi. Warga yang membutuhkan pertolongan medis mendapatkan penanganan terlebih dahulu sebelum diberangkatkan menggunakan ambulans.
Djadmiko mengatakan simulasi dirancang menyerupai kondisi darurat sesungguhnya dengan melibatkan berbagai unsur, mulai Forum Pimpinan Kecamatan (Forpimka) Songgon hingga RSUD Genteng.
Setelah proses pendataan dan penanganan awal, warga bersama petugas bergerak menggunakan kendaraan evakuasi menuju Lapangan Desa Sragi yang ditetapkan sebagai lokasi pengungsian dalam skenario latihan.
Pemilihan lokasi tersebut mempertimbangkan faktor keamanan karena berada di luar radius sekitar 10 kilometer dari puncak kawah Gunung Raung.
“Yang jelas itu berada di luar radius kurang lebih 10 kilometer dari puncak gunung berapi. Jadi, radius amannya memang ada di sekitar area ini,” ujar Djadmiko saat memantau kegiatan.
Sementara itu, Koordinator Pos Pengamatan Gunung Api (PPGA) Raung, Agung Tri Subekti, menyampaikan aktivitas kegempaan Gunung Raung masih menunjukkan dinamika yang fluktuatif. Berdasarkan pemantauan, status aktivitas vulkanik gunung tersebut masih berada pada Level II atau Waspada.
Pada status tersebut, masyarakat dan pengunjung direkomendasikan tidak mendekati pusat erupsi di kawah puncak dalam radius tiga kilometer.
Agung menegaskan latihan evakuasi menjadi bagian penting dalam mengukur kesiapan penanganan bencana sekaligus mengetahui aspek mitigasi yang masih perlu diperbaiki.
“Dengan simulasi ini, BPBD maupun pengamat bisa tahu apa yang kurang dan perlu diperbaiki dalam mitigasi,” pungkasnya.
Melalui keterlibatan dalam simulasi tersebut, Senkom Mitra Polri Banyuwangi menegaskan komitmennya untuk terus mendukung kegiatan kemanusiaan dan kebencanaan, khususnya dalam membangun kesiapsiagaan masyarakat menghadapi potensi bencana di wilayah Banyuwangi.


